Return to site

Lagi, Uber Kembali Ditinggal Petingginya

Solid Gold - bisa dibilang tengah mengalami kondisi perusahaan yang keruh. Pasalnya, belum lama ini, co-founder dan CEO Uber Travis Kalanick dianggap mencoreng citra perusahaan karena ketahuan sempat menulis memo internal, yang memperbolehkan karyawannya untuk berhubungan intim.

Akibatnya, dewan direksi Uber memutuskan Kalanick untuk cuti sementara dari perusahaan. Pertimbangan tersebut dilakukan demi memperbaiki kultur perusahaan yang kelewat bobrok.

Terkini, salah satu jajaran eksekutif Uber dikabarkan hengkang dari perusahaan. Orang tersebut tak lain adalah Emil Michael, Senior VP Business Uber, ‘tangan kanan’ dari Kalanick.

Michael tidak mengungkap alasan mengapa dia secara tiba-tiba meninggalkan perusahaan. Namun menurut informasi yang dimuat Engadget, Selasa (13/6/2017), Michael memiliki track record yang cukup buruk.
Salah satu aksi Michael yang dianggap merusak perusahaan terjadi pada 2014. Kala itu, Michael mengajak Kalanick dan beberapa eksekutif Uber lain menyambangi tempat karaoke prostitusi di Korea Selatan. Kontan, perilaku ‘nakal’ para eksekutif Uber langsung menjadi bahan perbincangan media dunia.

Tak cuma itu, Michael disebut-sebut juga menjadi salah satu eksekutif yang meninjau rekam jejak medis korban pelecehan oleh sopir Uber yang terjadi di New Delhi, India. Menurutnya, kasus pelecehan ini cuma direkayasa oleh perusahaan kompetitor.

Kemelut yang terjadi di Uber tak bisa lepas dari insiden pelecehan seksual. Pada Februari 2017, Senior VP Uber Amit Singhal meninggalkan perusahaan karena dituduh melakukan tindak pelecehan seksual pada saat ia masih bekerja di Google.

Hal tersebut terungkap dari sebuah dokumen rahasia, di mana menguar tindak pelecehan seksual yang dialami seorang karyawan wanita Google.

Selain insiden Amit Singhal, kasus pelecehan seksual di Uber juga terjadi pada salah seorang karyawan engineering-nya, Susan Fowler. Kejadian ini bermula pada awal dirinya pindah ke tim baru.

Fowler mengaku telah dilecehkan oleh manajernya sejak hari pertama bekerja. Ketika itu, sang manajer yang tak disebut namanya mulai berbicara hal tak nyaman pada Fowler.

Gara-gara hal ini, Fowler mengaku tertekan di tempat kerja. Ia kemudian mengirim screenshot percakapan dari manajernya itu dan melaporkan ke bagian SDM. Menurut Fowler, staf SDM merespon dengan mengatakan perusahaan tak nyaman dengan hal itu dan akan memberi peringatan keras kepada si manajer.

Sementara itu, Fowler diberi pilihan untuk meninggalkan tim atau kembali bekerja, dengan pengertian dari SDM bahwa hal itu bisa memberi dampak penilaian kerja yang jelek dari manajer yang melecehkannya.

All Posts
×

Almost done…

We just sent you an email. Please click the link in the email to confirm your subscription!

OKSubscriptions powered by Strikingly