Return to site

Kisah Anak Sopir Truk yang Jadi Bos Starbucks | PT SOLID GOLD BERJANGKA

· Solid Gold Berjangka,Solid Gold

PT Solid Gold Berjangka - Setelah menjabat dua kali sebagai CEO Starbucks, Howard Schultz akhirnya resmi mengundurkan diri dr kedai kopi paling terkenal di dunia itu. Pria yg lahir di New York pada 19 Juli 1953 mengumumkan pengunduran dirinya dgn cara memberikan memo kepada seluruh karyawannya.

Howard Schultz meninggalkan perannya sebagai CEO Starbuck pada April 2017, setelah menjabatnya sejak 1987 hingga 2000 & kemudian kembali memipin pada 2008.Di usianya yg menginjak 65 tahun, total kekayaan Howard Schultz mencapai US$ 2,5 miliar & masuk ke dlm daftar orang terkaya versi Forbes.

Namun, sebelum mencapai titik kesuksesannya, Schultz merupakan bocah yg berasal dr keluarga sederhana. Dia dibesarkan di perumahan bersubidi. Ayahnya pun tdk pernah lulus dr sekolah menengah & menjalankan banyak pekerjaan termasuk sopir truk, buruh pabrik, & sopir taksi.

Penghasilan ayahnya tdk pernah lebih dr US$ 20.000 per tahun, & harus menghidupi tiga anak. Itu sebabnya, Schultz tinggal di perumahan subsidi.Schultz mengaku utk mencapai titik kesuksesannya berkat belajar dr pengalaman sang ayah. Dia bilang, Fred yg merupakan ayah kandungnya adalah pria jujur & pekerja keras.

"Keluarga kami tdk memiliki penghasilan, tdk ada asuransi kesehatan, tdk ada uang kompensasi," tulis Schultz dlm buku 'Pour Your Heart Into It: How Starbuck Built a Company One Cup at a Time'.

Bos Starbucks ini pun harus merasakan pedihnya hidup sejak berusia 12 tahun, berbagai pekerjaan dilakoninya. Sebab, pendidikan formalnya hanya sampai SMA. Namun, berkat kemahirannya dlm berolahraga dirinya mendapatkan beasiswa di Northen Michigan University & lulus sebagai sarjana komunikasi pada 1975.

Dengan modal pendidikan yg sudah didapatkannya, Schultz memulai karirnya menjadi seorang sales and marketing di Xerox selama tiga tahun. Setelah itu, menjadi vice presiden and general manajer di Hammarplast sebuah perusahaan peralatan rumah tangga asal Swedia. Dari pengalamannya, pada 1982 dirinya pun pindah ke Seatlle utk bergabung dgn Starbuck sebagai direktur operasi & marketing. Saat itu, baru terdapat empat kedai kopi.

Pada 1983, akhirnya Schultz memutuskan pergi ke Italia lantaran kagum dgn salah satu toko kopi di Milan yg menjadi tempat orang-orang bertemu & berbagi waktu bersama di luar rumah & kantor. Pada saat itu juga, dia resmi meninggalkan Starbuck & mulai merintis usaha kedainya II Giornale. Beselang empat tahun atau pada 1984, dirinya pun mengambil alih Starbucks sebagai CEO. Schultz membeli kedai kopi itu dgn bantuan beberapa investor. Pada saat itu ada 17 lokasi toko, & saat ini ada lebih dr 28.000 lokasi Starbucks di 77 negara & lebih dr 350.000 orang bekerja dgn dia.

Di bawah kepemimpinannya, Starbucks menjadi perusahaan dgn pertumbuhan luar biasa. Dia pun menawarkan asuransi kesehatan kepada karyawannya, baik yg paruh waktu atau karyawan tetap. Bahkan, dirinya pun mencari mitra dgn menawarkan saham perusahaannya kepada publik. Berkat kecerdasannya, Schultz membawa Starbucks menjadi merek yg mendunia. Kesuksesan yg didapatkan seperti sekarang ini merupakan hasil dr tekad yg kuat & ketekunan yg teguh.


"Saya masih merasa seperti anak kecil dr Brooklyn yg dibesarkan di perumahan umum," kata Schultz.

Hasil dr karirnya selamanya, banyak penghargaan yg telah diraihnya. Salah satunya adalah The Horation Alger Award bagi mereka yg telah mengatasi kesulitan utk mencapai kesuksesan.

All Posts
×

Almost done…

We just sent you an email. Please click the link in the email to confirm your subscription!

OKSubscriptions powered by Strikingly